Hoaks

Beredar sebuah unggahan di media sosial yang menampilkan visual Gunung Krakatau dengan semburan api dan lava yang terlihat sangat dahsyat. Unggahan tersebut dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga dapat menimbulkan kesan seolah-olah gambar tersebut merupakan dokumentasi nyata dari letusan terbaru.
Faktanya, unggahan tersebut terindikasi menggunakan atau memanfaatkan visual hasil kecerdasan buatan (AI), sehingga tidak dapat dianggap sebagai dokumentasi asli letusan Gunung Anak Krakatau. Penyebaran konten semacam ini juga dapat dikategorikan sebagai newsjacking, yakni memanfaatkan isu yang sedang viral untuk memperoleh perhatian publik. Ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat, konten dramatis dan menyesatkan berpotensi mendapatkan lebih banyak klik, tayangan, komentar, serta interaksi. Dalam konteks media sosial, tingginya interaksi tersebut dapat memberikan insentif monetisasi bagi akun atau pihak yang menyebarkannya.
Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai foto atau video yang terlihat dramatis, terutama ketika tidak disertai sumber dan waktu pengambilan yang jelas. Jangan ikut menyebarkan konten hanya karena sedang viral. Periksa sumber, konteks, dan keasliannya terlebih dahulu agar tidak ikut memperluas hoaks yang dibuat demi mengejar traffic, engagement, maupun keuntungan monetisasi.
